PONTIANAK, Aktual86.online – Pengamat Kebijakan Publik, Dr. Herman Hofi Munawar, mengajak seluruh insan pers untuk memperkuat solidaritas, menjaga kekompakan, serta membangun hubungan profesional yang harmonis antarsesama wartawan dan perusahaan media.
Menurut Herman, solidaritas dan persatuan wartawan bukan sekadar slogan, melainkan fondasi penting dalam menjaga kehormatan profesi jurnalistik, memperkuat independensi pers, serta memastikan suara masyarakat tersampaikan kepada publik secara objektif, berimbang, dan bertanggung jawab.
“Saudara-saudaraku, solidaritas dan kekompakan di antara rekan-rekan media merupakan fondasi utama untuk menjaga marwah profesi, memperkuat independensi, dan memastikan suara publik tersampaikan secara objektif,” ungkap Dr. Herman Hofi Munawar.
Ia menegaskan, kekuatan seorang wartawan tidak ditentukan oleh besar atau kecilnya perusahaan media tempat bekerja. Lebih dari itu, kekuatan insan pers terletak pada integritas, profesionalisme, persatuan, serta komitmen bersama dalam menjalankan tugas jurnalistik.
“Kekuatan utama wartawan ada pada persatuan. Mari saling menguatkan, bukan saling menjatuhkan,” tegasnya.
Herman juga mengingatkan bahwa perbedaan pandangan, kebijakan redaksi, organisasi profesi, maupun kepentingan masing-masing media tidak seharusnya menjadi alasan untuk merusak hubungan antarsesama insan pers.
Sebaliknya, perbedaan harus disikapi secara dewasa melalui sikap saling menghormati, keterbukaan bertukar gagasan, serta semangat membangun kualitas pemberitaan yang lebih baik.
Menurutnya, pers memiliki tanggung jawab besar dalam menyampaikan informasi yang benar, akurat, berimbang, dan dapat dipercaya masyarakat. Karena itu, wartawan harus mengedepankan etika profesi, menjaga independensi, serta menghindari sikap saling merendahkan dan menjatuhkan sesama rekan seprofesi.
Ia berharap solidaritas insan pers terus tumbuh tanpa menghilangkan sikap kritis dan independensi masing-masing media. Sebab, kekompakan bukan berarti harus memiliki pandangan yang sama, tetapi mampu saling menghargai di tengah perbedaan.
“Jangan sampai kita terlalu sibuk menjatuhkan sesama profesi, sementara tantangan dunia pers semakin besar. Kita boleh berbeda media, berbeda organisasi, bahkan berbeda pandangan, tetapi tetap satu dalam menjaga kehormatan profesi jurnalistik,” tutup Herman.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa pers yang kuat tidak hanya dibangun melalui kebebasan menyampaikan informasi, tetapi juga melalui integritas, profesionalisme, solidaritas, dan rasa saling menghargai di antara para pekerjanya.
Persatuan bukan berarti kehilangan independensi. Berbeda media bukan alasan untuk bermusuhan. Sebab, marwah pers adalah tanggung jawab bersama seluruh insan jurnalistik.
Pewarta: P.T